Kata kunci pencarian harus 4 sampai 20 karakter

Sejarah Dan Filosofi Ketupat Yang Penuh Makna Kehidupan

Iman Widimulya May 20, 2019 8:03 AM
Sejarah dan filosofi ketupat.

Ketupat merupakan makanan khas yang paling banyak kita temui pada saat Lebaran yaitu perayaan hari raya umat Islam. Bahkan ada sebagian masyarakat mengatakan tidak ada hidangan ketupat ‘kurang afdol’ untuk makan di acara kumpul keluarga pada saat Lebaran, untuk itu ketupat sudah menjadi tradisi hidangan yang disajikan pada saat Lebaran.

Sejarah Ketupat

Sunan Kalijaga

Source: thegorbalsla.co

Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga kepada masyarakat Jawa

Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga kepada masyarakat Jawa, beliau membudayakan sebuah tradisi, yaitu setelah Lebaran, masyarakat setempat menganyam ketupat dengan daun kelapa muda lalu disii dengan beras. Namun masyarakat Jawa sebelum kedatangan islam, jauh sebelumnya nusantara sudah akrab dengan hidangan yang bernama ketupat atau tipat atau apapun nama sebutannya, bahkan bukan tidak mungkin ketupat sudah ada sebelum asimilasi agama Hindu.

Baca Juga: Tips Menjawab Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran

H.J. de Graaf dalam Malay Annal, menurutnya ketupat itu merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Patah awal abad ke-15. De Graaf menduga kulit ketupat yang terbuat dari janur berfungsi untuk menunjukkan identitas budaya pesisiran yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Warna kuning pada janur dimaknai oleh de Graff sebagai upaya masyarakat pesisir Jawa untuk membedakan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Dewi Sri

Source: www.mantrahindu.com

Oleh masyarakat jawa, ketupat di simbolkan sebagai rasa syukur terhadap Dewi Sri

Lebaran ketupat sendiri diangkat dari tradisi pemujaan Dewi Sri, dewi pertanian dan kesuburan, pelindung kelahiran dan kehidupan, kekayaan dan kemakmuran. Ia dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat agraris. Ia dimuliakan sejak masa kerajaan kuno seperti Majapahit dan Pajajaran. Dalam pengubahsuaian itu terjadi desakralisasi dan demitologisasi. Dewi Sri tak lagi dipuja sebagai dewa padi atau kesuburan tapi hanya dijadikan lambang yang direpresentasikan dalam bentuk ketupat yang bermakna ucapan syukur kepada Tuhan.

Filosofi Ketupat

ketupat

Source: www.google.com

Filosofi sebuah ketupat yang ternyata sangat bermakna bagi masyakarat jawa

Slamet Mulyono dalam Kamus Pepak Basa Jawa, menurutnya kata ketupat berasal dari kupat. Parafrase kupat adalah ngaku lepat: mengaku bersalah. Janur atau daun kelapa yang membungkus ketupat merupakan kependekan dari kata “jatining nur” yang bisa diartikan hati nurani. Secara filosofis beras yang dimasukan dalam anyaman ketupat menggambarkan nafsu duniawi. Dengan demikian bentuk ketupat melambangkan nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani.

Ketupat

Source: www.idntimes.com

Bentuk ketupat diartikan sebagai empat pejuru mata angin yang bermakna mendalam

Bagi sebagian masyarakat Jawa, bentuk ketupat (persegi) diartikan dengan kiblat papat limo pancer. Papat dimaknai sebagai simbol empat penjuru mata angin utama: timur, barat, selatan, dan utara. Artinya, ke arah manapun manusia akan pergi ia tak boleh melupakan pacer (arah) kiblat atau arah kiblat (salat).

Rumitnya anyaman janur untuk membuat ketupat merupakan simbol dari kompleksitas masyarakat Jawa saat itu. Anyaman yang melekat satu sama lain merupakan anjuran bagi seseorang untuk melekatkan tali silaturahmi tanpa melihat perbedaan kelas sosial. Tapi ceritanya jadi lain ketika terjadi krisis di saat lebaran; jurang sosial pun jadi jelas. Misalnya seperti dikisahkan Rosihan Anwar.

Baca Juga: 5 Hal Yang Harus Diwaspadai Saat Lebaran