Kata kunci pencarian harus 4 sampai 20 karakter

Perempuan Juga Bisa Rock n Roll!!

Ridho Fauzan Apr 25, 2019 7:00 AM
All female band pertama Indonesia yang tak gentar bermusik "ngak ngik ngok"

Skena musik Rock n Roll di Indonesia pada 1960an ternyata juga ciamik. Meski pada era tersebut musik yang dijuluki oleh Bung Karno sebagai musik "ngak ngik ngok" itu sempat dianggap sebagai racun karena membawa budaya barat dan tidak bersifat patriotik atau nasionalis, namun hasrat muda-mudi Indonesia untuk mulai berkreasi tak bisa dibendung. Hasilnya, lahirlah beberapa group musik yang ganas dan tidak segan memainkan genre tersebut.

Salah satu nama yang lahir dari era itu ialah Dara Puspita. Band yang digawangi oleh empat gadis asal Surabaya ini tidak hanya merayakan rock n roll, mereka juga diberi predikat sebagai all female band pertama di Indonesia. Lewat karya-karyanya, nama Dara Puspita melesat hingga kancah internasional, membuat mereka menikmati kehidupan layaknya rockstar tahun 60an di tengah hiruk pikuk rock n roll dunia yang sedang mengalami masa jaya-jayanya.

Melakukan sederetan tur di Eropa selama kurang lebih tiga tahun, rekaman di bawah label CBS di London, dan dipuja layaknya rockstar membuat saya membayangkan Dara Puspita bagaikan empat Janis Joplin yang digabung dalam satu band. Akrab dengan raungan liar gitar listrik, hentakan drum, dan dielu-elukan oleh penonton berambut gondrong yang hobi mengenakan kaca mata hitam ala John Lennon sambil mengacungkan kedua jarinya (bukan kampanye).

Baca Juga: Dilan Era Millenial, Tetap Menawan dan Memprioritaskan Pendidikan


Perempuan Juga Bisa Rock n Roll!!Source: goodnewsfromindonesia.com
Personel Dara Puspita.







Dara Puspita dibentuk di Surabaya, pada 1964. Sebelumnya mereka memakai nama Nirma Puspita dan Irama Puspita. Menurut Rolling Stone Indonesia, Nirma Puspita pada saat itu masih menjadi band pengiring. Seiring perjalanan, satu per satu anggota Nirma Puspita mengundurkan diri hingga tersisa empat nama. Titiek AR sebagai gitaris, Prasetiani sebagai gitaris dan vokalis, Lies AR pembetot bass, dan Susy Nander sebagai penggebuk drum. Transformasi band tersebut kemudian melahirkan nama baru Irama Puspita, pengganti Nirma Puspita.

Ditengah perjalanan meniti karir, Irama Puspita sempat mengalami perubahan formasi. Lies AR harus kembali ke Surabaya untuk melanjutkan studinya. Posisinya digantikan oleh Titiek Hamzah. Namun dalam menyuri jalan menuju kesuksesan tentu harus melewati beberapa rintagan.

Ketika Lies kembali ke Jakarta, timbul perselisihan di dalam Irama Puspita yang menyebabkan Prasetiani hengkang dari band tersebut. Tidak hanya formasi anggota, nama Irama Puspita pun juga ikut berubah menjadi Dara Puspita. Menurut kesaksian dari salah satu anggota Dara Puspita yang dikutip dari goodnewsfromindonesia.com nama Dara Puspita muncul karena kesalahan panitia penyelenggara saat mereka tampil di Istora Senayan pada akhir Februari 1965.

"Tapi kami waktu itu ndak protes karena nama Dara Puspita lebih enak kedengarannya," ungkap Susy Nander, mantan drummer Dara Puspita. Dengan nama itulah mereka mulai melesat.

Baca Juga: Mengenal Kevin Carter, Fotografer yang Bunuh Diri Setelah Memenangkan Penghargaan Pulitzer Prize

Memainkan musik yang ketal akan budaya barat pada waktu itu merupakan tantangan. Rezim Orde Lama pada saat itu anti terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan negara-negara barat imperialis. Musik rock ‘n roll pada saat itu dicibir oleh pemerintah sebagai musik "ngak-ngik-ngok". Karenanya, nama Koes Bersaudara dan Dara Puspita tak luput dari pengawasan pemerintah Orde Lama.

Perempuan Juga Bisa Rock n Roll!!Source: pophariini.com
Dara Puspita bergerak di bawah kebijakan represif pemerintahan Orde Lama.





Koes Bersaudara bahkan sempat dijebloskan di penjara selama tiga bulan lantaran memainkan lagu-lagu The Beatles dalam sebuah hajatan pesta ulang tahun. Sedangkan Dara Puspita hanya diwajibkan untuk lapor seminggu sekali kepada pihak yang berwajib. Namun di bawah tekanan represi pemerintahan Orde Lama, Dara Puspita tetap menapaki tangga karirnya meskipun dengan perlahan. Hingga akhirnya pemerintah orde lama lengser dan Suharto mulai berkuasa, Dara Puspita mulai menunjukkan sisi liarnnya dalam bermusik yang sudah tertahankan bertahun-tahun.

Pada momen itu, mereka melepas album debut bertajuk Jang Pertama. Di album ini, mereka memainkan musik pop minimalis. Tembang-tembang seperti “Mari-Mari” hingga “Surabaya” cukup sukses membawa nama mereka ke permukaan industri musik. Memasuki penggarapan album kedua, warna musikalitas Dara Puspita semakin bervolusi hingga menarik perhatian dunia internasional.

Tak sekadar di level Asia, Dara Puspita juga menjajal pasar Eropa selama tiga tahun. Mereka bermain di Inggris, Belanda, Prancis, Belgia, Jerman, hingga Hungaria. Atas pencapaian tersebut, majalah Aktuil menempatkan Dara Puspita di peringkat teratas sebagai artis pilihan pembaca, lebih tinggi dari Koes Bersaudara.

Baca Juga: Mengenal Si “Binatang Jalang” Chairil Anwar, Sosok Sastrawan Sepanjang Massa


Perempuan Juga Bisa Rock n Roll!!Source: bombastis.com
Dara Puspita pun memutuskan untuk bubar.




Pada 1971 Dara Puspita kembali ke tanah air, mereka disambut layaknya rockstar kelas dunia. Rencana tur keliling Indonesia sudah dipersiapkan. Namun dibalik ketenaran Dara Puspita, rumor akan bubarnya band tersebut mulai menyeruak. Pada 29 Maret 1972, Dara Puspita pun memutuskan untuk menggelar persembahan terakhirnya bagi para pemujanya di Jakarta.

Kehadiran Dara Puspita dalam kancah permusikan Indonesia setidaknya membuktikan bahwa tak ada batasan gender dalam merayakan rock n roll. Ketika musik Indonesia masih didominasi oleh band-band pria, Dara Puspita hadir sebagai empat gadis rock ‘n roll yang mendobrak stigma. Mereka juga merupakan wujud keberanian berekspresi di tengah tekanan rezim Orde Lama yang represif.