Kisah Nyata: Naik Motor Bareng Hantu Marni

Cerita tentang hantu atau mahluk gaib atau jin, atau apalah namanya, selalu membuat takut yang disertai dengan berdirinya bulu kuduk bahkan dengan keringat dingin, saking takutnya. Tapi terkadang ketakutan itu bisa jadi cerita lucu terutama bagi yang mendengarnya, kalau yang mengalami jangan ditanya lucunya, hanya sekedar tahu saja sudah beruntung loh

Ini ada cerita tentang hantu yang ujung-ujungnya bisa bikin lucu :D

Alkisah, di awal tahun 1980 an (sudah lama sekali lho kejadiannya), aku punya seorang sahabat, dia seorang pemuda, namanya Iwan, seorang PNS yang bekerja sebagai penyuluh pertanian lapangan atau biasa disingkat PPL, dan ditempatkan di sebuah kecamatan di Kabupaten Kuningan Jawa Barat, nama kecamatannya adalah Ciwaru berjarak sekitar 25 kilo meter ke arah timur dari ibu kota kabupaten. Bagi yang tidak tahu Kabupaten Kuningan, silakan searching di Google Map, pasti ketemu itu yang namanya Ciwaru. Aku sendiri bekerja di Puskesmas di kecamatan yang sama, jadi kenal banget dengan Iwan Karen sering tugas lapangan bersama-sama. Kebetulan Iwan ini punya pacar seorang perawat yang bekerja di Puskesmas yang sama denganku.

Pasa saat itu, alat transportasi di Ciwaru belum banyak seperti sekarang, paling ada satu dua mobil colt buntung, itupun hanya operasi sampai siang menjelang sore. Ojeg belum ada karena yang punya sepeda motor juga belum banyak. Bahkan listrikpun belum ada di semua wilayah kecamatan Ciwaru, baru ada di ibu kota kecamatan, itupun sering byar pet, dan sialnya lebih lama pet nya disbanding byar nya. Kalau sekarang, jangan ditanyalah Karen Ciwaru sudah seperti kota, fasilitas yang ada di kota, sudah ada juga di Ciwaru.

Pada suatu hari, Iwan diundang rapat dinas di kewedanan yaitu di Luragung, jaraknya tidak jauh dari Ciwaru, paling 6 atau 7 kilo meter. Maka, dengan mengendarai sepeda motor plat merah, berangkatlan dia untuk menghadiri rapat dinas.

Rapat berlangsung ampai sore, lama karena konon kabarnya ada pengarahan dari tim pusat tentang teknologi baru pertanian, menjelang magrib rapat baru selesai. Pas mau pulang, tiba-tiba turun hujan cukup deras sehingga dia terpaksa menunggu dulu, akhirnya berkerumunlah bersama beberapa orang teman sejawat, sama-sama menunggu hujan reda. Sekitar 2 jam menunggu, barulah hujan reda, paling menyisakan sedikit gerimis. Keadaan di uar gelap sekali dan dinginnya mencucuk sampai tulang. Tapi dengan tenang, bapak PPL kita menstater sepeda motornya, kemudian berjalan perlahan menembus kegelapan untuk pulang menuju Ciwaru.

Keluar dari wilayah Luragung, jalan menurun dan agak licin karena masih dibasahi air hujan, di beberapa tempat kelihatan genangan yang lumayan besar. Memasuki perbatasan Luragung Ciwaru, jalan sudah benar-benar sepi dan gelap banget. Di kiri kanan jalan, kelihatan rimbunan rumpun bambu menghitam karena tidak ada cahaya sedikitpun yang mengenainya. Selepas itu, jalan seperti memasuki hutan kecil yang ditanami berbagai jenis pohon. Sehabis turunan, sepeda motor memasuki jembatan sungai Cisanggarung, airnya di bawah jembatan kedengar mengemuruh karena derasnya karena sudah dimasuki air hujan yang turun dua jam lebih. Tiba-tiba….. pet mesin sepeda motor mati, keadaan jadi gelap sekali karena lampu utama juga mati.

“Waduh… celaka nih, mesin mati, sendirian pula” gumamnya perlahan.

Dia mulai panik tapi lebih banyak takutnya. Dengan reflek kepalanya menoleh kiri kanan juga ke belakang, karena di tempat seprti ini, segala kemungkinan bisa saja terjadi.

Kepanikannya tidak berlangsung lama, dia segera bisa menguasai dirinya. Diambilnya senter dari tas selempangnya yang selalu dibawa kemana-mana karena dia itu petugas yang sering di lapangan, di desa-desa tempat petani yang menjadi mitra kerja. Jadi senter itu “senjata wajib” karena dia sering kerja di lapangan sampai malam. Disorotinya bagian mesin sepeda motornya, tapi dia tidak mengerti kenapa mesinnya mati. Busi nya dibuka dan dilihatnya, bersih businya. Tapi untuk menghilangkan penasaran digosoknya juga itu busi dengan ampelas yang ada di peralatan motor, kemudian dipasang lagi, dan motor selanjutnya distater, tapi tetap tidak hidup. Kembali rasa panik menyergapanya. Tapi ketika hampir batas putus asa, tiba-tiba sinar senter menyoroti kran bensin yang ada di bawah tangki, kran itu menutup, sehingga pastilah bensin tidak turun ke mesin.

“Ya Allah… ini toh penyebabnya” gumamnya senang.

Kran bensin dibukanya perlahan, kemudian setelah beberapa saat dibiarkan supaya bensin turun, kembali motor distater. Mesin motor langsung hidup…

“Alhamdulillah….. “ gumamnya.

Tapi sebelum sepeda motor bergerak, tiba-tiba dia mendengar sebuah suara yang menyapa.

“Pak Mantri, boleh saya ikut pulang ke Ciwaru” suara seorang perempuan tidak jauh kedengarannya. Iwan kaget mendengar sapaan itu, tap bukan kaget karena dipanggil Pak Mantri, karena itu adalah panggilan masyarakat kepadanya sebagai PNS yang sering tugas ke lapangan. Yang bikin kaget adalah tiba-tiba saja ada yang memanggilnya, padahal ini daerah sepi yang jauh kemana-mana, lagi pula dari tadi dia sendirian saja disana.

“Boleh ya pa…” suara itu kedengaran lagi.

Dan tiba-tiba di depannya sudah berdiri seorang perempuan, kelihatannya masih muda. Masih dengan kekagetannya, Iwan menyorotkan senter ke arah perempuan itu and memperhatikannya dengan seksama. Rambutnya ditutupi topi hitam, memakai kemeja merah dan kebawahnya memakai jeans yang sepertinya berwarna hitam juga. Ketika senter menyoroti wajahnya, perempuan itu tersenyum, manis sekali senyuman itu. Iwan hanya terdiam karena belum hilang rasa kagetnya.

“Kamu siapa?” cuma itu kalimat yang dapat keluar dari mulut Iwan.

“Saya orang Ciwaru pak, pasti bapak tidak kenal karena saya bukan siapa-siapa, tidak terkenal seperti bapak…” jawabnya masih tetap sambil tersenyum. “Boleh saya ikut pulang ya pak”

“Iya boleh… boleh….” Jawab Iwan tergagap, tapi matanya juga senternya tidak lepas-lepas dari wajah perempuan itu.

 “Ayo naik…” lanjutnya.

Tanpa disuruh dua kali, perempuan itu langsung duduk diboncengan motor Iwan. Dan tiba-tiba, tangan perempuan itu memeluk pinggang Iwan dari belakang. Tentu saja Iwan kaget, perempuan yang baru pertama dikenalnya, membonceng di motornya dan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Sebagai seorang bujangan, darah muda Iwan menggelegak mendapat perlakuan itu. Iwan merasakan badan perempuan itu menempel di punggungnya. Rasa hangat seolah merambat dari badan serta tangan perempuan itu, seolah menembus baju dinasnya sehingga berbagai angan-angan berkecamuk di kepalanya (Ingat Wan, pacarmu menunggu di Puskesmas :D).

“Saya minta izin memeluk pinggang bapak ya, karena saya selalu takut jatuh kalau membonceng sepeda motor” kata perempuan itu tiba-tiba seolah menjwab kekagetan Iwan. Di depan, Iwan tidak menjawab, cuma tersenyum saja. Setelah berjalan beberapa saat, Iwan baru tersadar, rasanya aneh tiba-tiba ada perempuan di jembatan di tempat yang jauh kemana-mana, dari mana datangnya.

“Sebenarnya kamu itu dari mana Neng? Kok ada di atas jembatan yang jauh kemana-mana, malam-malam pula” tanyanya.

“Ah bapak ini,,,” jawab perempuan itu manja, suaranya perlahan tapi sangat jelas di telinga Iwan. “Saya bukan di atas jembatan. Saya mau pulang ke Ciwaru, tapi sudah tidak ada kendaraan, jadi terpaksa dari Luragung saya jalan kaki. Pas dekat jembatan, tiba-tiba hujan, jadi terpaksa saya menunggu sambil berteduh di saung dekat jembatan. Dan akhirnya rejeki buat saya, karena tiba-tiba bapak datang” lanjutnya.

“Oh begitu “ kata Iwan mengangguk-angguk.

Perjalanan dari jembatan sungai Cisanggarung ke Ciwaru terasa lama, tapi Iwan tidak merasakan itu, yang dia rasakan cuma kehangatan yang masih terasa menjalar dari tangan perempuan itu.

Akhirnya sepeda motor memasuki gerbang desa Ciwaru, suasana jalan dan rumah di kiri kanannya terasa sepi, seperti ada penghuninya.

“Kita sudah sampai Ciwaru Neng, rumahnya dimana? tanya Iwan setelah beberapa lama sepanjang perjalanan, mereka saling ngobrol lagi. Iwan tidak mendengar jawaban dari belakang, tapi badan tangan perempuan itu masih terasa menempel di punggungnya, juga tangannya masih terasa erat memeluknya.

“Neng sudah sampai…” kata Iwan sekali lagi, suaranya lebih keras dari tadi. Tapi tetap tidak ada jawaban. Maka Iwan menepikan sepeda motornya, kemudaian berhenti. Tapi pas melihat kebelakang, betapa terkejutnya dia, perempuan itu tidak ada di boncengan motornya. Tapi Iwan masih merasakan berat badan orang yang duduk di belakangnya, serta masih merasakan ada badan yang menmpel. Dan, tangan itu masih terasa memeluknya, masih terasa hangat.

“Ya Allah kemana perempuan itu….” kata Iwan setelah berteriak.

Anehnya, beban di boncengan motornya terasa seperti menghilang, dan badan yang menempel di punggung juga tidak terasa lagi, begitu juga tangan yang dari tadi memeluknya, sudah tidak ada lagi. Rasa hangat yang dari dari menjalar ke seluruh tubuhnya, tiba-tiba saja musnah, berganti hawa dingin yang mencucuk. Iwan bergidig dan baru tersadar pada dirinya, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri.

“Jangan-jangan yang tadi itu…….”

Secepat kilat Iwan tancap gas, sekencang-kencangnya melarikan sepeda motor seperti yang dikejar hantu. Perempuan tadi itu mengejarnya ngga ya.

Beberapa menit kemudian, Iwan sampai di depan rumah di pinggir jalan yang di depannya dipasangi tenda yang cukup besar, ada banyak orang berkerumun di dalamnya. Iwan jadi teringat, itu rumah Pak Kadus (kepala dusun) yang sedang hajatan mau menikahkan anaknya besok. Iwan turun dari sepeda motor dan masuk untuk bergabung dengan yang kerumunan.

“Assalamualaikum….” ucapnya memberi salam, tapi ucapannya bergetar karena masih dalam ketakutan. Orang-orang pada menyambutnya karena Iwan dikenal oleh mereka sebagai seorang PPL yang sering berkeliling.

“Walaikumsalam, ayo masuk Pak Mantri…..”

Setelah bersalaman dengan semua orang yang hadir, kemudian Iwan duduk duduk di kursi yang sepertinya akan digunakan besok untuk duduk tamu undangan. Tak berapa lama, Pak Kadus datang menghampirinya.

“Wah senang sekali saya Pak Mantri ikut hadir” sapanya ramah, “kita ini mau lek-lekan, Pak Mantri ikutan ya..” Lek-lekan itu kebiasaan yang dilaksanakan pada malam hari sebelum hari H hajatan, yaitu begadang sampai pagi sambil menyiapkan segela keperluan untuk hajatan, biasanya diselingi dengan main kartu gaple atau main catur atau apa saja untuk menghilangkan ngantuk.

“Pak Mantri pulang dari mana, kok masih pake baju dinas?” tanya Pak Kadus kemudian. Tapi Iwan tidak menjawab semua pertanyaan tuan rumah, dia hanya bengong seperti melamun, seolah pikirannya tidak ada disitu. Tentu saja ini membuat aget Pak Kadus juga semua orang yang ada di sana, karena dari tadi mereka memperhatikan Pak Mantri ini seperti orang aneh.

Salah seorang yang hadir, tiba-tiba menghampiri Pak Kadus dan membisikian sesuatu, dan kemudian Pak Kadus mengangguk.

“Pak Mantri mari ke dalam saja, disini dingin..” katanya sambil menarik tangan Iwan untuk diajak ke dalam rumah. Iwan seperti kerbau dicocok hidungnya, menurut saja ajakan Pak Kadus. Sejurus kemudian Iwan sudah ada di dalam rumah, duduk di kursi ditemani Pak Kadus dan orang yang tadi membisiki Pak Kadus, dia itu Pak Ketib desa atau sekarang namanya Kaur Kesra desa.

“Ada apa Pak Mantri?’ tanya Pak Ketib pelan, matanya tajam melihat muka Iwan seolah ingin melihat apa yang ada di pikirannya.

“Saya bingung…” jawab Iwan perlahan.

Setelah minum beberapa teguk dan setelah agak tenang, Iwan menceritaka apa yang baru saja dialaminya, tapi dengan kata-kata yang bergetar seolah rasa takutnya belum hilang. “Tapi tolong jangan bilang-bilang ke orang lain ya pak, saya malu” kata Iwan menutup ceritanya.

Pak Ketib tidak sedikitpun berubah air mukanya, dia tidak kaget, seolah yang diceritakan Iwan bbukan hal yang aneh bagi dirinya.

“Itu pasti arwah Marni” kata Pak Ketib setelah berdiam beberapa saat, ‘tapi Pak Mantri tidak perlu takut, dia tidak pernah mencelakai orang”

“Siapa itu Marni?” tanya Iwan dengan suara masih bergetar.

Pak Ketib kemudian bercerita, sekitar lima atau enam bulan lalu, Marni kecelakaan di jembatan itu, dia jatuh saat membonceng motor calon suaminya, dia meninggal di temat karena kepalanya membentuk tembok jembatan. Rumah Marni di desa Baok, tapi ibunya orang sini. Pak Mantri bukan orang pertama yang dihantui Marni, sudah beberapa orang yang diganggunya. Kalau orang yang tahu, terutama malam hari, kalau melewati jembatan itu, selalu membunyikan klakson supaya tidak diganggu Marni. “Kasihan Marni…” Pak Ketib mengakhiri ceritanya.

“Malam ini, Pak Mantri tidur aja di sini, kamar di loteng kosong dan sudah dibersihkan. Istirahat aja biar besok pagi jadi segar” Pak Kadus menawarkan. Tapi Iwan tidak menjawab, karena ada keraguan di pikirannya. Rupanya Pak Kadus dapat membaca keraguan itu, kemudian katanya sambil senyum “Pak Mantri tidak perlu takut, arwah Mantri tidak akan mengganggu istirahat Pak Mantri, dia pasti sudah kembali ke jembatan”

Iwan hanya mengangguk, memang lebih baik istirahat saja disini, karena badannya capai banget, terutama fikirannya masih kacau. Kalau pulang pun, takut terjadi apa-apa di jalan.

Lho…. Dimana lucunya cerita ini???? Dengar dulu dong kelanjutannya, jangan nyela dulu.

***

Iwan dapat dengan cepat melupakan cerita tentang Marni, dia menganggap itu hanya mimpi buruk saja yang hilang begitu dia terbangun. Orang-orangpun tidak tahu apa yang dia alami kecuali Pak Ketib, Pak Kadus dan beberapa orang teman dekat Iwan.

Sebulan kemudian, Iwan kembali diundang rapat, tapi kali ini tempatnya di ibu kota kabupaten yaitu di Kuningan. Rapat berakhir sore hari, kemudian bergegas Iwan pulang. Tapi lagi-lagi di Luragung hujan menghalangi perjalannannya, sehingga dia terpaksa menunggu hujan reda. Selepas Isya hujan baru reda, dan dengan mengucap Bismillah, dia melanjutkan perjalanan pulang ke Ciwaru. Begitu memasuki rimbunan pohon bambu di kiri kanan jalan yang gelap, tiba-tiba dia teringat pengalamannya dicegat arwah Marni. Karena dia juga teringat cerita Pak Ketib, makanya meskipun masih jauh dari jembatan, dia bunyikan klakson motornya terus menerus sampai dia sendiri merasa berisik, tapi dia tidak peduli. Kalau ternyata arwah Marni ada disana, biar dia minggir dan tak minta diantar pulang. Sampai di atas jembatan, klakson motor masih terus dibunyikan, sampai pegel dia memegang tombol klaksonnya. Tiba-tiba Iwan ingat sesuatu, jangan-jangan arwah Marni langsung menclok di boncengan motornya. Maka dia hentikan motornya, kemudian duduknya digeser ke belakang hingga seluruh jok motor didudukinya. Karena pantatnya dusuk di jok belakang motor, maka tangannya jadi jauh ke stang stir motor, untuk meraihnya terpaksa membungkuk, jadilah dia seperti yang mengendari motor sambil terngkurap di atas jok. “Aman sekarang..” pikirnya, “arwah Marni tidak akan bisa membonceng motorku”. Seandainya ada yang melihat, pasti akan tersenyum melihat kelakuan Bapak PPL ini.

Akhirnya dengan aman dan selamat, sampailah Iwan ke Ciwaru. Dia tidak langsung pulang, tapi mampir dulu ke Puskesmas untuk menemui pacarnya yang sedang piket, kebetulan aku juga sedang di Puskesmas karena ada laporan yang harus diselesaikan. Iwan masuk ke ruanganku sambil tersenyum, dan atanya, “saya berhasil mengelabui arwah Marni, dia tidak bisa membonceng di motorku…” dan tawanya lepas begitu saja. Tentu saja aku bengong mendengarnya, ada apa kau ini Wan?” tanyaku kemudian.

Tanpa diminta, kemudian Iwan menceritak yang baru saja dia lakukan waktu melewati jembatan tempat dia dicegat arwah Marni dulu.

Giliran kini aku yang tertawa

“Gila kau ini Wan” kataku masih sambil tertawa.

“Bagaimana kalau arwah Marni marah karena jok motornya kamu duduki sampai belakang. Kamu pasti pingsan kalau tiba-tiba arwah Marni duduk di atas tangki motormu, duduk mengahadap ke belakang dan berhadap-hadapan dengan muka kamu. Coba mau apa kamu”.

Iwan tidak menjawab, malah tertawa dengan keras, sampai pacarnya pun akhirnya datang

 

 

Kalian punya kisah seperti tadi ?

Mau komen? Klik di Sini Kuy!
Loading ...