Film Horor Pertama Indonesia Poenya: Ouw Peh Tjoa

Film Horor di Indonesia yang kamu dengar sejak lama pasti film Suzanna. Tapi, jauh sebelum film Suzanna hadir, masih ada film bernuansa seram yang harus kamu ketahui. Fyi, film horor memiliki umur yang hampir sama lamanya dengan kemunculan film itu sendiri loh. Satu tahun dari demontrasi proyektor dengan ditemukannya kamera film yang dapat diproyeksikan pada layar lebar pada tahun 1895 oleh Robert Paul di London, muncul film horor pertama yakni Le Manoir du diable atau The House of the Devil. Le Manoir du diable merupakan sebuah film bisu pendek Prancis tahun 1896 yang menceritakan kisah perjumpaan dengan Iblis dan berbagai hantu yang menyerupai asisten rumah tangga.

Source: suaratangsel.com

 

Sementara itu, film Indonesia pertama sendiri berjudul Loetoeng Kasaroeng yang dibuat tahun 1926 yang tentunya merupakan film bisu hitam-putih. Walau dibuat bukan oleh orang Indonesia sendiri, tapi oleh L. Heuveldorp dan G. Krugers. Film ini menampilkan cerita asli Indonesia dengan kisah legenda rakyat Jawa Barat. Lalu delapan tahun kemudian, seorang Tionghoa peranakan bernamakan The Teng Chun, mengangkat cerita klasik Tionghoa ke layar lebar yang berjudul Ouw Peh Tjoa atau Doea Siloeman Oeler Poeti en Item pada tahun 1934. Dilanjutkan dengan film berjudul Ti Pat Kai Kawin (Siloeman Babi Perang Siloeman Monjet) pada tahun tahun 1935 dan Anaknja Siloeman Oeler Poeti pada tahun 1936.

Film Ouw Peh Tjoa atau Doea Siloeman Oeler Poeti en Item (Dua Siluman Ular Putih dan Hitam) merupakan film horor pertama yang ditayangkan di Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda loh. Dibuat oleh sutradara keturunan Tionghoa, The Teng Chun, film ini diproduksi oleh Cino Motion Pictures dan diangkat dari cerita klasik Cina. 

Source: cinemapoetica.com

Film ini menceritakan mengenai siluman ular putih yang berwujud wanita cantik yang sudah bermeditasi selama beberapa ratus tahun dan tertarik pada manusia (pria) bernama Khouw Han Boen. Lalu ada musuhnya yakni ular hitam, juga menyukai pria tersebut. Keduanya saling bersaing untuk memperebutkan hati Khouw Han Boen. Akhirnya siluman ular putih yang memenangkan hati Khouw, tapi pria ini ga mengetahui kalau ia akan menikahi siluman ular. Ga lama, identitas asli siluman ular putih ini ketahuan dan Khouw berusaha membatalkan pernikahan mereka. Namun si wanita ular menangis dan memberitahu bos Khouw bahwa mereka akan menikah. Khow akhirnya terpaksa menikahinya. Dengan kelihaian siluman ular putih dan paras yang cantik, Khouw semakin lama semakin jatuh cinta. 

Setelah beberapa bulan, Khouw didekati seorang pendeta yang bernama Hoat Hae Sian Soe. Pendeta ini kemudian berusaha membunuh si wanita ular yang menjadi istri Khouw. Wanita siluman ular putih akhirnya kabur. Namun pendeta berhasil menangkap sang siluman ular dan akan membunuhnya, tapi dihentikan oleh dewi Kwan Im. Dewi ini memberitahu pendeta bahwa sang ular sedang hamil. Sebulan setelah ular tadi melahirkan, si pendeta datang kembali. Wanita ular ini menyerahkan anaknya ke Khouw, lalu pasrah pada nasibnya. Ia dimasukkan ke toples ajaib dan dibawa pergi. Cerita film ini lalu bersambung ke film Anaknja Siloeman Oeler Poeti pada tahun 1936.

Source: letterboxd.com

Film ini lebih ditargetkan pada penonton etnis Tionghoa dan berisi perkelahian dan macam-macam jimat ajaib. Bahkan film tersebut diekspor ke Singapura yang sebagian besar penduduknya adalah orang Tionghoa.Pada tahun 1936, film sekuelnya yang berjudul Anaknja Siloeman Oeler Poeti dan ditayangkan sampai tahun 1937. Lalu mengubah persepsi dalam negeri tentang alur film yang lebih menguntungkan dan mengubah film yang dibuat oleh The Teng Chun dengan mengadaptasi cerita yang cocok dengan penduduk pribumi Hindia Belanda saat itu dan berfokus pada peristiwa kehidupan sehari-hari.

Penayangan Ouw Peh Tjoa sendiri berakhir sampai tahun 1953. Film ini bahkan tergolong dokumentasi film yang hilang. Antropolog visual Amerika Serikat bernama Karl G. Heider menyatakan bahwa semua film Indonesia yang dibuat sebelum 1950 ga diketahui lagi dikarenakan keberadaan salinannya yang entah di mana. Untungnya, dalam ‘Katalog Film Indonesia’ yang disusun oleh JB Kristanto menyatakan bahwa masih terdapat beberapa film yang tersimpan di Sinematek Indonesia dan terdapat sejumlah film propaganda Jepang di Dinas Informasi Pemerintah Belanda.

Walaupun film Ouw Peh Tjoa bercerita mengenai siluman ular dan terdapat kisah asmara, film ini masih bernuansa seram dan menakutkan pada zamannya loh. 

Bagaimana pendapat kamu tentang ini?

 Source: indonesiancinematheque.blogspot.com

 

 

Mau komen? Klik di Sini Kuy!
Loading ...