Kata kunci pencarian harus 4 sampai 20 karakter

Fakta Mencengangkan, Inilah Kronologi Letusan Gunung Krakatau Tahun 1883

Nurus Sobah Jan 7, 2019 6:15 AM
Kronologi Letusan Gunung Krakatau Tahun 1883

Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang hancur karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat, awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa.

Sebelum letusan 1883, aktivitas seismik di sekitar Krakatau sangat tinggi, menyebabkan sejumlah gempa bumi yang dirasakan sampai ke benua seberang, Australia. Pada 20 Mei 1883, pelepasan uap mulai terjadi secara teratur di Perboewatan, pulau paling utara di Kepulauan Krakatau. Pelepasan abu vulkanik mencapai ketinggian sampai 6 km dan suara letusan terdengar hingga ke Batavia (sekarang Jakarta), yang berjarak 160 km dari Krakatau. Gak kebayang seberapa hebatnya itu! Aktivitas vulkanik menurun pada akhir Mei, dan gak ada aktivitas lebih lanjut yang tercatat sampai beberapa minggu setelahnya.

Source: racingnelliebly.com

Ilustrasi letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada tahun 1883.

Tapi, meredanya aktivitas Krakatau saat itu justru merupakan awal dari bencana alam terbesar yang menimpa kepulauan nusantara. Letusan kembali terjadi pada 16 Juni, yang menimbulkan letusan keras dan menutupi pulau dengan awan hitam tebal selama lima hari. Aktivitas gunung menyebabkan air pasang di sekitarnya jadi lebih tinggi, dan kapal-kapal di pelabuhan harus ditambatkan dengan rantai supaya gak terseret laut.

Baca Juga: Kenali 7 Tanda-Tanda Akan Terjadinya Tsunami

Pada tanggal 11 Agustus 1883, pakar topografi Belanda, Kapten H. J. G. Ferzenaar, mulai menyelidiki pulau. Ia menemukan tiga gulungan abu udah melingkupi pulau, dan lepasan uap dari setidaknya sebelas ventilasi lainnya, sebagian besarnya terdapat di Danan dan Rakata. Saat mendarat, Ferzenaar mencatat adanya lapisan abu setebal 0,5 m, dan musnahnya semua vegetasi pulau, hanya menyisakan tunggul-tunggul pohon. Keesokan harinya, sebuah kapal yang lewat melaporkan mengenai adanya ventilasi baru yang berjarak "hanya beberapa meter di atas permukaan laut". Aktivitas vulkanik Krakatau terus berlanjut sampai pertengahan Agustus.

Source: shopify.com

Ilustrasi letusan Gunung Krakatau

Tanggal 25 Agustus 1883, letusan makin meningkat. Sekitar pukul 13.00 tanggal 26 Agustus, Krakatau memasuki fase paroksimal. Satu jam kemudian, para pengamat bisa melihat awan abu hitam dengan ketinggian 27 km. Saat itu, letusan terjadi terus menerus dan ledakan terdengar setiap sepuluh menit sekali. Kapal-kapal yang berlayar dalam jarak 20 km dari Krakatau dihujani abu tebal, dengan potongan-potongan batu apung panas berdiameter hampir 10 cm mendarat di dek kapal. Tsunami kecil menghantam pesisir Pulau Jawa dan Sumatera hampir 40 km jauhnya pada pukul 18.00 dan 19.00.

Source: indonesiantimeline.wordpress.com

Ilustrasi tsunami akibat erupsi Gunung Krakatau.

Pada 27 Agustus 1883, empat letusan besar terjadi pukul 05.30, 06.44, 10.02, dan 10:41 waktu setempat. Pada pukul 5.30, letusan pertama terjadi di Perboewatan, yang memicu tsunami menuju Teluk betung. Pukul 06.44, Krakatau meletus lagi di Danan, menimbulkan tsunami di arah timur dan barat. Letusan besar pada pukul 10.02 terjadi begitu keras dan terdengar hampir 3110 km jauhnya ke Perth, Australia Barat, dan Rodrigues di Mauritius (4800 km jauhnya).

Baca Juga: 10 Gempa Terdahsyat Sepanjang Sejarah di Dunia

Penduduk di sana mengira bahwa letusan tersebut adalah suara tembakan meriam dari kapal terdekat. Masing-masing letusan disertai dengan gelombang tsunami, yang tingginya mencapai 30 m di beberapa tempat. Pada pukul 10.41, tanah longsor yang meruntuhkan setengah bagian Rakata memicu terjadinya letusan akhir.

Source: www.modbee.com

Gelombang tekanan yang dihasilkan oleh letusan keempat dan terakhir terpancar keluar dari Krakatau sampai ketinggian 1086 km/h. Letusan tersebut sangat kuat sampai memecahkan gendang telinga para pelaut yang sedang berlayar di Selat Sunda. Gak sampai disutu, saking hebatnya letusannya, sampai gelombang tekanan terpancar dan tercatat oleh barograf di seluruh dunia, yang tetap terjadi sampai 5 hari setelah letusan. Rekaman barografis menunjukkan bahwa gelombang kejut dari letusan terakhir bergema ke seluruh dunia sebanyak 7 kali. Dan ketinggian kabut asap diperkirakan mencapai 80 km.

Source: www.reddit.com

Jangkauan suara letusan Gunung Krakatau

Kurang lebih 1.000 orang tewas akibat hujan abu. Gak satupun yang selamat dari total 3.000 orang penduduk pulau Sebesi, yang jaraknya sekitar 13 km dari Krakatau. Aliran piroklastik menewaskan kurang lebih 1.000 orang di Ketimbang dan di pesisir Sumatera yang berjarak 40 km di sebelah utara Krakatau. Jumlah korban jiwa yang dicatat oleh pemerintah Hindia Belanda adalah 36.417, tapi beberapa sumber menyatakan bahwa jumlah korban jiwa melebihi 120.000. Kapal-kapal yang berlayar jauh hingga ke Afrika Selatan juga melaporkan guncangan tsunami, dan mayat para korban terapung di lautan berbulan-bulan setelah kejadian. Kota Merak, Banten luluh lantak oleh tsunami, serta kota-kota di sepanjang pantai utara Sumatera.

Baca Juga: 5 Tempat Wisata Di Indonesia Ini Dulunya Bekas Bencana Alam Guys, Tapi Sekarang Jadi Tempat yang Kece Banget

Source: www.newhistorian.com

Pulau yang hilang karena letusan

Akibat letusan Krakatau, pulau-pulau di Kepulauan Krakatau hampir seluruhnya menghilang, kecuali tiga pulau di selatan. Dari dua pulau di utara, hanya pulau berbatu bernama Bootsmansrots yang tersisa. Setahun setelah letusan, rata-rata suhu global turun 1,2° C. Pola cuaca tetap gak beraturan selama bertahun-tahun, dan suhu gak pernah normal sampai tahun 1888. Begitu dahsyatnya latusan gunung Krakatau saat itu sampai efeknya dirasakan di benua seberang.

Baca Juga: Penemuan Arkeologi Penting yang Mengungkap Tabir Sejarah