Bayangkan pulang kerja, macet, capek, dan main game jadi obat paling ampuh buat ngusir lelah. Bukannya mendapatkan pelarian yang kalian harapkan, kalian malah mendapatkan rekan setim yang mulai dengan sengaja merusak permainan. Apalagi setelah permainan berakhir kalian mendapatkan pesan berupa umpatan-umpatan.

Bukannya merasa santai setelah kerja seharian, kalian merasa frustrasi, dan suasana hati kalian memburuk karena toxic player! Pasti kesel kan?

Kalian termasuk yang mana nih, toxic player atau malah yang dirugikan sama toxic player? Yuk cari tahu ciri-ciri toxic player disini!

 

1. Suka merendahkan sesama anggota tim

Source: http://www.digitalspy.com/gaming/news/a675246/are-gamers-really-geeky-sci-fi-fans-who-live-with-their-parents-er-yes-yes-they-are/

Kembali pada masa keemasan Xbox Live, saat multiplayer online dan obrolan suara mulai digunakan dalam konsol game. Waktu itu, hampir semua orang menggunakan headset. Tapi, di zaman sekarang kalian banyak menemui kenyataan bahwa orang-orang gak lagi menggunakan fitur ngobrol di game. Kenapa? Karena banyak munculnya kekerasan verbal yang muncul pada sesama anggota tim. Coba tanyakan pada diri kalian sendiri, apa kalian juga suka merendahkan atau mengumpat sesama anggota tim?

 

2. Selalu menyalahkan orang lain

Source: https://memebase.cheezburger.com/videogames/tag/angry-gamer

"Cyberbullying adalah ketika toxic player menemukan kinerja yang buruk, dia mencari orang lain selain dirinya sendiri untuk disalahkan."

Kutipan di atas gak diambil dari artikel game, melainkan studi penelitian yang melihat bagaimana persisnya cyberbullying memberikan pengaruh yang buruk di video game. Para toxic player ini suka menindas rekannya karena mereka tampaknya gak bisa menyalahkan diri sendiri saat mereka kalah.

Apa yang mendorong perilaku ini? Mungkin itu ego. Gak mudah bagi beberapa gamer untuk mengakui kekalahan mereka dan lebih mudah untuk menyalahkan rekan tim mereka.

 

3. Berhenti bermain saat kalah

Source: https://boingboing.net/2017/11/10/games-show-how-the-presence-of.html

Di sebagian besar video game, berhenti di tengah-tengah permainan bukanlah masalah besar. Dalam permainan Madden, misalnya, kalian biasanya memainkan pertandingan satu lawan satu, dan lawan kalian berhenti karena kalian hampir menang. Lain ceritanya dalam multi-player game. Saat salah satu rekan tim keluar, pasti akan menimbulkan masalah.

Jadi kalo kalian memulai permainan, selesaikan. Supaya kalian gak jadi toxic player!

 

4. Suka memprovokasi

Source: https://plarium.com/en/blog/deal-with-gamer-rage/

Menurut Oxford Dictionary, toxic player adalah "seseorang yang melecehkan atau sengaja memprovokasi pemain atau anggota lain untuk merusak kesenangan mereka." Gimana? Kalian termasuk?

 

5. Melaporkan lawan karena iri dengan keunggulan mereka

Source: https://gamingcentral.in/14-year-old-gamer-sued-cheating/

Menjadi mahir dalam game adalah pedang bermata dua. Dengan melihat nama kalian di puncak leaderboard setelah pertandingan bisa sangat memuaskan. Tapi, di sisi lain, ada pemain lain yang mencoba membuktikan keahlian kalian. Beberapa lawan bahkan akan menuduh kalian berbuat curang. Ini bisa jadi masalah kalo mereka punya akses ke sistem pelaporan multiplayer.

Menggunakan sistem multiplayer online, seperti Xbox Live atau PlayStation Network, lawan yang gak  puas dan kalah bisa berpotensi melaporkan kalian karena mengumpat atau perilaku gak pantas lainnya. Dan mereka bahkan bisa melakukannya saat kalian gak berbuat salah apa-apa. Bisa aja mereka melaporkan kalian saat kalian lebih unggul.

Kalo kalian pernah melakukan ini, please stop! Kalian Cuma mengotori permainan dengan menjadi toxic player.

 

6. Berbuat curang

Source: http://www.gamenews.biz/2017/07/Danger-Side-Effect-for-gamers.html

Saat memasuki arena pertarungan, sebagian besar melakukannya dengan maksud bermain sesuai aturan. Setelah semua, ukuran terbaik dari keterampilan game kalian adalah bersaing dengan lawan dan menang secara adil. Sedangkan para toxic player menggunakan "aimbots" di Fortnite sehingga mereka gak harus bekerja keras memperbaiki tujuan mereka. Kadang-kadang mereka bahkan menipu demi mendapatkan rekor dunia yang orang lain mungkin lebih layak.

Mereka yang gak menikmati permainan atau malah gak bisa bermain. Ketika seseorang menipu, mereka gak hanya berbohong tapi merusak kesenangan orang lain juga.