Kata kunci pencarian harus 4 sampai 20 karakter

Ayo Belajar Tentang Kondisi Sosial Masyarakat Indonesia Melalui Novel-Novel Klasik Ini

Nurus Sobah Nov 26, 2018 7:00 AM
Ada banyak novel klasik yang bagus untuk dibaca. Dan dari membaca novel-novel klasik tersebut, kita bisa mempelajari kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat pada masa itu. Yuk, mulai baca novel

Source:https://www.merdeka.com/peristiwa/annelies-minke-fantasi-pramoedya-tentang-tirto-adhi-soerjo.html

Ada banyak novel klasik yang bagus untuk dibaca. Dan dari membaca novel-novel klasik tersebut, kita bisa mempelajari kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat pada masa itu. Yuk, mulai baca novel klasik Indonesia!

 

1. “Bumi Manusia” - Pramoedya Ananta Toer

Source: https://shopee.co.id/Bumi-Manusia-Pramoedya-Ananta-Toer-i.37487045.1164581226

Bumi Manusia adalah buku pertama dari tetralogi Pulau Buru. Buku ini mengisahkan perjuangan seorang pemuda intelektual Jawa bernama Minke di masa kolonialisme Belanda. Tokoh legendaris lain yang muncul adalah Nyai Ontosoroh, perempuan dari strata rendah tapi punya pengetahuan melampaui pengetahuan perempuan-perempuan Belanda. Naskahnya dibuat saat Pramoedya diasingkan di Pulau Buru. Karya ini ditulis diam-diam, disembunyikan, dan diceritakan dari mulut ke mulut sampai akhirnya berhasil diselundupkan dan diterbitkan tahun 1975. Peredaran buku ini sempat dilarang di masa Orde Baru. Sekarang, Bumi Manusia udah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa dan menjadi karya terbesar Pramoedya Ananta Toer.

 

2. “Robohnya Surau Kami” - AA Navis

Source: https://www.goodreads.com/book/show/1455480.Robohnya_Surau_Kami

Buku ini adalah kumpulan cerpen yang salah satunya berjudul “Robohnya Surau Kami”. Cerpen tersebut berkisah tentang  seorang lelaki tua yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah. Ia merasa tersinggung oleh cerita Ajo Sidi si Pembual tentang seorang yang punya kemiripan dengannya."Kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja." Itulah salah satu petikan paling kuat dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” (terbit pertama kali tahun 1956) yang kontroversial sekaligus sarat perenungan. Kesembilan karya lainnya dalam kumpulan cerpen karya AA Navis ini juga gak kalah menggugat dan penuh kritik sosial.

 

3. “Ronggeng Dukuh Paruk” - Ahmad Tohari

Source: https://www.goodreads.com/book/show/1334844.Ronggeng_Dukuh_Paruk

Novel yang terdiri dari tiga buku yang disatukan ini sempat difilmkan dengan judul “Sang Penari” pada tahun 2011 lalu. Berkisah tentang kisah cinta antara Srintil, seorang penari ronggeng dengan Rasus, teman semasa kecilnya yang kemudian berprofesi sebagai tentara dan berlatar tragedi 65. “Bahwa zaman berjalan sambil mengayun ke kiri dan ke kanan. Setelah Dukuh Paruk mencapai puncak kebanggaan, kini zaman mengayunkannya ke kurun yang membawa serta kebalikannya.”

 

4. “Saksi Mata” - Seno Gumira Ajidarma

Source: https://www.goodreads.com/book/show/1025834.Saksi_Mata

Saksi Mata merupakan buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh Seno, dan diterbitkan tahun 1994. Buku ini memuat 16 cerita pendek. Di awal kemunculannya, buku ini menyita perhatian dari berbagai kalangan, mengingat, Saksi Mata merupakan cerpen berlatar isu politik tentang kejahatan militer atas insiden Timor-Timur. Oleh karena itu, Saksi Mata dikategorikan sebagai jurnalisme sastra.

 

5. “Salah Asuhan” – Abdoel Moeis

Source: https://www.goodreads.com/book/show/12220654-salah-asuhan?rating=2

Salah Asuhan dikarang selama masa kolonial dan diterbitkan oleh Balai Pustaka, penerbit buku-buku yang "cocok untuk bacaan pribumi Indonesia". Agar mendapat izin terbit pada masa itu, sebuah buku perlu menghindari tema pemberontakan dan menggunakan bahasa Melayu formal. Selain itu, Salah Asuhan harus ditulis kembali dengan karakter Eropa yang bercitra positif setelah Balai Pustaka menolak menerbitkannya.

Novel ini berkisah tentang pemuda pribumi bernama Hanafi yang membenci identitasnya dan lebih senang bergaul dengan orang Belanda.