Ada Penunggu Di Bangunan Baru Sekolahku

Sumber: thejetstreamjournal.com

Ada sebuah kepercayaan di daerah tempat tinggalku, bahwa setiap bangunan yang baru selesai dibangun harus terlebih dahulu dilakukan sebuah ritual, umumnya biasa disebut sebagai “selametan”, seperti melakukan pengajian secara bersama-sama dengan tujuan agar bangunan baru tersebut terhindar dari berbagai hal buruk dan aura negatif.

 

Kisah ini terjadi saat aku masih duduk di bangku SMA, kala itu kebetulan ada salah satu bangunan di lantai tiga sekolahku yang baru saja selesai dibangun, dan bangunan tersebut belum sempat dilakukan pengajian untuk “selametan” karena memang kondisinya baru saja selesai dilakukan pembangunan, mungkin pihak sekolahku masih sibuk mencari waktu yang tepat untuk melakukannya. Seperti tingkah anak sekolah pada umumnya, siang itu di jam istirahat sekolah aku dan tiga orang temanku sebut saja Anto, Lastri dan Ali berlari-larian di koridor lantai tiga sekolah, lokasinya tepat di bangunan baru sekolahku. Ketika melewati sebuah ruangan kelas yang baru jadi, aku dan ketiga temanku iseng memandang ke arah jendela sambil bercermin di kacanya. Entah angin apa yang membuatku secara spontan melontarkan kalimat, “Ih… muka kita bertiga kok kayak kuntilanak ya?” Sontak si Lastri langsung berkata, “Hussh… hati-hati kamu kalau ngomong! Jangan sembarangan ah, nanti kalau penunggu sini denger dan kita dikasih liat wujudnya gimana? Emang kamu berani?” “Halaaaaah… ini kan siang hari bolong, mana ada yang begituan,” kataku. Anto dan Ali hanya tertawa melihatku dan Lastri berdebat.

 

Bel tanda jam pelajaran sudah berbunyi, itu berarti kita harus kembali ke dalam kelas karena jam istirahat sekolah sudah berakhir. Pak Agus, guru pelajaran matematika sudah memasuki kelas dan bersiap mengajar. Ini sebetulnya pelajaran yang paling tidak aku suka, lain halnya dengan teman sebangku aku si Lastri, dia paling senang kalau jam pelajaran matematika. Tapi di sinilah keanehan dimulai, Lastri yang biasanya tampak selalu semangat mengikuti pelajaran matematika, biasanya ia paling sering bertanya ke Pak Agus atau menjadi yang paling pertama mengangkat tangan ketika Pak Agus mengajukan pertanyaan. Lastri sepanjang pelajaran justru tampak melamun, matanya tampak kosong dan sejak tadi aku lihat matanya seperti mengarah ke arah luar jendela kelas kami.

 

“Las… Lastri.. heeeh..,” aku tepuk pundaknya, namun ia tetap diam, matanya masih menatap ke arah luar jendela kelas. Tetiba Lastri memukul meja dengan sangat keras, sontak murid-murid lain yang berada di kelasku mengalihkan pandangan mereka ke arah Lastri. “Lihat saja! Akan aku bakar sekolah ini!” teriak Lastri dengan sangat lantang. Murid-murid yang lain semuanya justru tertawa melihat Lastri, mereka mengira Lastri sedang mengigau. “Lastri, kamu kenapa?” tanya Pak Agus. Seketika Lastri jatuh pingsan, ketika aku mencoba menyadarkannya dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya, ia justru menjerit histeris. Di situ aku, murid-murid yang lain dan pak Agus menganggap kalau Lastri ini sedang kerasukan. “Hey, ayo kalian semua tolong bawa temanmu ini ke UKS!” perintah Pak Agus kepada murid-murid di kelas. Aku, Ali dan beberapa temanku yang lain berusaha menggotong Lastri menuju ruang UKS, sementara Anto dan Pak Agus berinisiatif memanggil seorang Ustadz yang ada di sekitar sekolah kami. Sesampainya di UKS, jeritan Lastri semakin menjadi-jadi dan kini justru semakin meronta-ronta. Aku dan murid-murid yang lain berinisiatif untuk membaca ayat-ayat suci yang kami hapal dengan maksud mengusir makhluk halus yang merasuki Lastri, tapi justru keadaan Lastri semakin bertambah parah. Bahkan Ali yang sedari tadi mencoba memegangi tangan Lastri agar tidak meronta justru tampak kewalahan. Pak Agus dan Anto datang ke ruang UKS dengan ditemani seorang Ustadz, aku dan murid-murid yang lain diperintahkan untuk meninggalkan UKS untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, karena katanya jika ada seseorang yang sedang kerasukan bukan tidak mungkin akan membuat orang lain yang berada di sekitarnya akan kerasukan juga. “Ayo kalian semua keluar dulu, biar saya dan pak Ustadz yang nanganin ini!” ucap Pak Agus sambil mengayunkan tangannya sebagai isyarat bahwa aku dan teman-teman sekelasku harus pergi menjauh dari UKS.

 

Kejadian ini, membuat jam pelajaran di kelas kami terhenti, sedangkan di kelas lain jam pelajaran tetap berjalan seperti biasanya. Aku dan teman-teman sekelasku duduk di pinggir lapangan sekolah, karena kami semua masih ketakutan dan masih tidak mau masuk ke kelas. Tidak lama berselang, kami mendengar sebuah jeritan dari lantai 2 sekolah kami, tepatnya dari salah satu kelas. Jeritan itu seolah bertambah satu demi satu, hingga setiap kelas dan suaranya kian keras. Keadaan ini membuatku dan teman-teman sekelasku hanya terdiam sambil menatap satu sama lain, beberapa di antaranya hanya tertunduk ketakutan. Karena keadaan semakin tidak kondusif, pihak sekolah menghimbau kepada murid-murid yang masih dalam kondisi sadar untuk segera pulang, jam pelajaran dibubarkan lebih awal. “Ali.. Anto.. temani aku ya, kalau perlu salah satu dari kalian anterin aku pulang! Aku takut!” ucapku kepada Ali dan Anto. “Yaudah, lo sama gue aja ya, nanti gue anter sampe rumah” ucap Ali. “Yaudah kita ke parkiran deh, ambil motor terus langsung pulang,” tambah Anto. Kami bertiga berjalan bersama ke arah parkiran sekolah, di sana sudah banyak sekali murid-murid yang bersiap pulang mengambil kendaraannya. Ketika Ali bersiap menyalakan motornya, tetiba murid-murid yang berada di parkiran sekolah satupersatu berjatuhan dan berteriak histeris. Ali langsung mengajakku ke arah musala sekolah, sayangnya Anto yang sudah berada di parkiran sekolah bersama kami sudah kerasukan.

 

Aku dan Ali berlari menuju musala sekolah, ternyata di sana sudah penuh oleh murid-murid yang kesurupan dan sedang berusaha ditenangkan oleh beberapa guru sekolahku. Ali menatapku dengan tajam, lalu ia berkata, “Lastri, kayaknya lo harus minta maaf deh,” “minta maaf ke siapa?” tanyaku. “Ya bukan maksud gue nyalahin lo ya, Las. Tapi ini semua kayaknya ada hubungannya sama ucapan lo tadi siang di lantai 3 sekolah,” ucap Ali. “Yang gue bilang muka kita kayak kuntilanak pas tadi lagi ngaca di jendela?” tanyaku. “Iya, aku sih takutnya gitu” ucap Ali.

 

Entah kenapa perkataan Ali tadi membuat aku merasa bersalah, aku mencoba berjalan ke arah lapangan sekolah yang letaknya berada di tengah-tengah bangunan sekolahku yang berbentuk seperti huruf U. Aku menatap ke lantai tiga tempat aku, Lastri, Ali dan Anto tadi berlari-larian saat jam istirahat sekolah. Di koridor itu, di bangunan baru sekolahku aku melihat makhluk serupa kera yang menatapku dengan sangat tajam dan memperlihatkan taringnya yang panjang.

 

Cerita ini terinspirasi dari cerita yang dikirimkan oleh @dillarief di SEMEDI (Sebelum Memedi) Dagelan

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Jadi? Kapan kita nikah?

A post shared by zulfadillah ailidia maydi (@dillarief) on

Mau komen? Klik di Sini Kuy!
Loading ...